Chat with us, powered by LiveChat

Arab Saudi Cabut Kewarganegaraan Putra Osama bin Laden

Osama bin laden son

Otoritas Arab Saudi telah mencabut kewarganegaraan Hamza bin Laden, putra pendiri Al-Qaeda mendiang Osama bin Laden. Sosok Hamza kini dipandang sebagai pemimpin jihadis yang mulai menanjak. 

Seperti dilansir AFP, Sabtu (2/3/2019), pencabutan kewarganegaraan Hamza itu dilaporkan oleh surat kabar lokal Saudi, Umm al-Qura, yang mengutip Kementerian Dalam Negeri Saudi.

Disebutkan Umm al-Qura bahwa kewarganegaraan Saudi yang dimiliki Hamza dicabut sejak 22 Februari lalu melalui sebuah dekrit Kerajaan Saudi. Alasan pencabutan kewarganegaraan itu tidak disebut lebih lanjut.

Pada Kamis (28/2) pekan ini, otoritas Amerika Serikat (AS) menawarkan imbalan sebesar US$ 1 juta atau setara Rp 14 miliar kepada siapa saja yang bisa memberikan informasi soal keberadaan Hamza. Departemen Luar Negeri AS menyatakan Hamza diburu karena diketahui menjadi pemimpin kunci sebuah kelompok milisi Islam.

Serangan teror terhadap AS pada 11 September 2001 yang didalangi Al-Qaeda menewaskan sekitar 3 ribu orang dan memicu intervensi AS di Afghanistan. Osama tewas dalam penyerbuan pasukan khusus AS di tempat persembunyiannya di kota Abbottabad, Pakistan tahun 2011 lalu. 

Hamza, yang menurut otoritas AS kini berusia 30 tahun, telah mengancam akan melakukan serangan terhadap AS untuk membalas kematian ayahnya. 

“Sejak setidaknya Agustus 2015, dia (Hamza-red) telah merilis pesan audio dan video di internet yang menyerukan para pengikutnya untuk melancarkan serangan terhadap Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Baratnya,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (28/2) waktu setempat.

Hamza yang merupakan putra ke-15 dari total 20 anak Osama dan anak dari istri ketiga Osama ini sejak kecil dibesarkan untuk mengikuti jejak ayahnya. Terus berada di samping Osama di Afghanistan sebelum serangan 11 September 2001 terjadi, Hamza telah sejak lama belajar memegang senjata. Dalam video-video yang beredar secara online, Hamza yang masih kecil telah menyerukan serangan terhadap Amerika dan Yahudi.

Sehari sebelum serangan 11 September 2001 terjadi, Hamza dipisahkan dari Osama yang tidak pernah dia temui lagi hingga Osama tewas.

Lokasi keberadaan Hamza yang terkadang dijuluki ‘Putra Mahkota Jihad’ ini telah menjadi spekulasi sejak bertahun-tahun. Berbagai laporan menyebut Hamza tinggal di Pakistan, Afghanistan, Suriah hingga Iran. 

Diyakini Hamza tinggal selama bertahun-tahun dengan ibundanya di Iran, meskipun Al-Qaeda terang-terangan mengecam rezim Syiah yang mendominasi Iran. Para pengamat menduga rezim Iran menahan Hamza dengan status tahanan rumah sebagai cara untuk menjaga tekanan pada Saudi, rivalnya, juga pada Al-Qaeda.


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *